Hewan yang Bisa Jadi ‘Therapy Animal’: Apa Sebenarnya Fungsi Mereka?

💕 Apa Itu Hewan Therapy Animal?

Belakangan ini, istilah hewan therapy animal semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Terapi menggunakan hewan mulai dianggap efektif dalam membantu manusia menghadapi stres, kecemasan, dan trauma.

Therapy animal bukan sekadar hewan peliharaan biasa. Mereka dilatih khusus untuk memberikan dukungan emosional dan rasa nyaman bagi orang yang membutuhkannya.
Oleh karena itu, hewan ini sering hadir di rumah sakit, panti jompo, sekolah, hingga pusat rehabilitasi.


🧠 Fungsi Utama Hewan Therapy Animal

Hewan terapi berfungsi sebagai pendamping penyembuhan emosional.
Mereka membantu manusia merasa lebih tenang, diterima, dan dicintai tanpa penilaian.

Beberapa manfaat utama therapy animal antara lain:

  • Menurunkan tingkat stres dan tekanan darah.
  • Membantu pasien depresi merasa lebih bahagia.
  • Mempercepat pemulihan fisik melalui peningkatan hormon endorfin.
  • Meningkatkan kepercayaan diri bagi penderita trauma.

Selain itu, interaksi dengan hewan juga dapat memperbaiki kualitas tidur dan konsentrasi seseorang.

📚 Sumber umum seperti Wikipedia menyebutkan bahwa terapi dengan hewan terbukti efektif meningkatkan kesejahteraan emosional pasien di berbagai negara.


🐶 Hewan yang Paling Sering Jadi Therapy Animal

Tidak semua hewan cocok menjadi therapy animal. Mereka harus memiliki sifat lembut, sabar, dan mudah dilatih.

Berikut beberapa hewan yang paling umum digunakan dalam terapi:

1. Anjing

Anjing adalah therapy animal paling populer di dunia. Mereka dikenal setia, mudah memahami perasaan manusia, dan cepat beradaptasi.
Biasanya, anjing terapi digunakan di rumah sakit anak, sekolah khusus, atau tempat rehabilitasi.

2. Kucing

Kucing cocok untuk terapi emosional di rumah atau ruangan tenang.
Suara dengkuran mereka terbukti dapat menurunkan detak jantung dan membantu seseorang merasa lebih rileks.

3. Kelinci dan Guinea Pig

Kedua hewan ini sering dipilih untuk terapi anak-anak dan lansia karena ukurannya kecil dan sifatnya lembut.
Selain itu, membelai bulu kelinci dapat membantu menurunkan hormon stres kortisol.

4. Kuda (Equine Therapy)

Kuda digunakan dalam terapi khusus yang disebut equine therapy.
Terapi ini membantu meningkatkan keseimbangan emosi, kepercayaan diri, dan kontrol diri, terutama bagi penderita PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

5. Burung dan Ikan

Hewan kecil seperti burung dan ikan juga bisa memberikan efek menenangkan.
Gerakan ikan yang lembut atau suara burung yang merdu bisa membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan fokus.


🌿 Bagaimana Hewan Therapy Animal Membantu Kesehatan Mental

Interaksi dengan hewan terapi dapat memicu pelepasan hormon oksitosin dan endorfin, dua hormon yang meningkatkan rasa bahagia dan koneksi sosial.
Selain itu, aktivitas sederhana seperti memeluk atau menyisir bulu hewan bisa membantu seseorang merasa lebih damai.

🩵 Manfaat psikologis therapy animal:

  • Mengurangi rasa kesepian dan isolasi sosial.
  • Meningkatkan motivasi dalam proses penyembuhan.
  • Membantu pasien yang sulit bersosialisasi.
  • Mengalihkan pikiran dari trauma dan rasa sakit.

Banyak terapis di dunia kini menggabungkan sesi terapi konvensional dengan interaksi hewan untuk mempercepat proses pemulihan pasien.

💡 Baca juga: [Ras Anjing & Kucing Paling Kalem — Cocok Buat Pemilik yang Suka Ketentraman]


🏥 Contoh Penggunaan Therapy Animal di Dunia

Di berbagai negara maju, therapy animal sudah menjadi bagian penting dari layanan kesehatan mental.
Misalnya, di Amerika dan Jepang, rumah sakit anak sering menggunakan anjing terapi untuk menemani pasien selama perawatan.

Sementara itu, di Inggris, banyak universitas yang mengadakan program “Pet Your Stress Away”, di mana mahasiswa bisa berinteraksi dengan kucing atau anjing terapi menjelang ujian.

Di Indonesia, tren ini mulai berkembang. Beberapa klinik psikologi dan komunitas pecinta hewan mulai memperkenalkan konsep animal-assisted therapy secara profesional.


🐾 Apa Saja Syarat Hewan Bisa Jadi Therapy Animal?

Tidak semua hewan bisa langsung menjadi therapy animal.
Mereka harus melalui proses pelatihan dan penilaian khusus agar siap berinteraksi dengan manusia dalam berbagai kondisi.

✅ Syarat umum therapy animal:

  • Tenang dan tidak mudah stres.
  • Tidak agresif terhadap manusia maupun hewan lain.
  • Terlatih untuk berada di lingkungan ramai.
  • Terbiasa disentuh atau dipeluk.
  • Sehat secara fisik dan bebas dari penyakit.

Selain itu, pemilik juga harus mengikuti program sertifikasi agar hewan mereka diakui sebagai official therapy animal.


🌼 Therapy Animal vs Emotional Support Animal

Meski sering disamakan, therapy animal berbeda dengan emotional support animal (ESA).
Keduanya sama-sama memberikan dukungan emosional, namun memiliki fungsi dan peran yang berbeda.

AspekTherapy AnimalEmotional Support Animal
Fungsi utamaMembantu terapi pasien di fasilitas umumMemberi dukungan emosional pribadi
Pelatihan khususYa, wajibTidak selalu
Tempat kerjaRumah sakit, sekolah, pusat rehabilitasiRumah pribadi
Interaksi dengan orang lainBisa untuk banyak orangHanya untuk pemiliknya

Dengan demikian, therapy animal lebih fokus pada dukungan sosial kolektif, sedangkan ESA lebih bersifat personal.


💬 Peran Therapy Animal di Indonesia

Konsep therapy animal di Indonesia masih baru, tetapi potensinya besar.
Beberapa organisasi dan komunitas pecinta hewan mulai mengadakan kunjungan ke panti jompo dan rumah sakit untuk memperkenalkan manfaat terapi hewan.

Selain itu, pet shop dan klinik hewan juga bisa ikut mendukung dengan menyediakan ruang interaksi aman antara hewan dan pengunjung.
Kegiatan seperti ini bukan hanya memberi kebahagiaan, tapi juga meningkatkan empati masyarakat terhadap hewan peliharaan.

🐕 Baca juga: [Ternyata Ini Alasan Kenapa Anjing Suka Nempel Saat Kita Sedih]


🌟 Therapy Animal Bukan Sekadar Peliharaan

Hewan therapy animal memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental manusia.
Mereka membantu mengurangi stres, memperbaiki mood, dan menumbuhkan rasa kasih sayang.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghargai peran hewan-hewan ini dan mendukung pengembangan terapi berbasis hewan di Indonesia.
Dengan perhatian dan pelatihan yang tepat, hewan bukan hanya teman setia, tapi juga penyembuh bagi banyak hati manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *